Until The Flowers Bloom [Ngobrol]

(Foto: di sini)
"Apakah aku yang terlalu menutup diri?"
"Apakah aku yang kurang berusaha?"
"Atau, memang nggak ada yang mau sama aku."
Menjelang usia 30, pikiran-pikiran random tentang pasangan dan pernikahan sering menyerang kepalaku secara brutal. Aku seperti habis dicabik-cabik isi kepalaku sendiri.
Orang-orang di sekitarku mulai banyak bertanya perihal 'kapan?' atau 'siapa?', dan lebih dari siapapun di dunia ini, aku yang paling ingin tahu jawabannya. Setiap kali mendapatkan pertanyaan-pertanyaan semacam itu, rasanya seperti dipaksa mengerjakan Asesmen, tanpa persiapan, tahu-tahu sudah dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang wajib dijawab dengan benar. Aku tidak tahu jawabannya, maka yang sering terucap selalu 'Do'akan saja', yang aku juga sadar antara jawaban dan pertanyaan tidak nyambung sama sekali. haha!
Aku banyak berefleksi dan merenungkan kesalahan apa yang tanpa sadar pernah kulakukan di masa lalu, atau mungkin, dulu pernah amat melukai sampai-sampai rasanya sekarang aku tidak 'deserve' untuk orang lain. Apakah aku punya luka yang belum sembuh? Tapi, aku baik-baik saja kok. Apakah aku punya banyak sekali kekurangan sehingga orang lain enggan menerimanya? Apakah aku terlalu menutup diri? Apakah aku yang kurang berusaha? Atau memang, mungkin, nggak ada yang mau sama aku.
Refleksi yang kemudian berubah menjadi overthinking.
Kadang-kadang, aku juga ingin seperti orang lain. Aku merasa tidak cukup istimewa untuk mendapatkan kisah yang tidak biasa. Aku selalu ingin punya kisah biasa saja, seperti kisah-kisah pasaran yang bisa ditemukan di mana-mana, seperti plot template di dracin yang bisa ditebak bagaimana akhirnya.
Aku juga ingin menikah di pertengahan usia 20-an, atau maksimal 26, tapi ternyata Allah yang Maha Baik dan Penyayang tidak memberikan itu. Aku kemudian jadi sering mengeluh, kadang-kadang juga menyalahkan diri, 'mungkin masalahnya ada di aku, mungkin memang aku yang nggak cukup baik untuk orang lain, mungkin memang nggak ada yang mau sama aku.' Aku seperti dicabik-cabik. Galaunya agak berlebihan memang, haha!
Sampai suatu hari, aku menemukan sebaris kalimat di buku 'Jika kita tak pernah jatuh cinta' milik Alvi Syahrin,
"Jangan tergila-gila pada apapun di dunia. Dunia fana." -hal. 210
Sebaris kalimat itu membantuku untuk kembali sadar bahwa hidup di dunia ini hanya sementara, kehidupan setelah kehidupan yang fana ini lah yang kekal. Lalu, aku sudah punya bekal apa?
Nanti yang dilaporkan Malaikat, 'ketimbang ngumpulin bekal buat akhirat, manusia yang satu ini mah malah sibuk galau perihal jodoh, ya Allah!'
Kan, nggak keren.. :(
Aku nggak mau dilaporin begitu.
Akhirnya, aku jadi banyak merenung tentang, 'kenapa ya aku harus sebegitu khawatir dan merasa takut hanya karena belum dipertemukan dengan pasangan? padahal perihal itu sudah Allah pastikan bahkan sejak aku masih ada di dalam kandungan.' Jadi, ya, seharusnya aku tenang saja.
Setelah mendapatkan kesadaranku kembali, pelan-pelan, aku mulai menerima kisah 'tidak biasa' yang Allah berikan.
Proses menyadari dan menerima ini tidak mudah, perlu upaya dan waktu yang tidak sebentar, juga diwarnai oleh serba-serbi keluhan. Kadang-kadang, aku juga masih sering merasa khawatir dan takut tertinggal dari yang lain. Aku ingin percaya bahwa 'sedikit terlambat' bukan berarti 'tertinggal' atau 'gagal', tapi memang rasanya tidak mudah punya kepercayaan itu. Menerima sesuatu yang nggak kita mau juga sering jadi perkara yang sulit. Tapi aku selalu berdo'a, semoga Allah senantiasa memberiku kelapangan hati.
Aku ingin percaya bahwa hal-hal yang 'belum datang' atau 'terlambat datang', bukan berarti karena ia tidak ada, tapi karena memang belum waktunya aja untuk datang. Seperti tanaman yang belum berbunga, bukan berarti tanaman itu gagal tumbuh, tapi karena memang belum waktunya aja bunganya mekar.
Aku sering mengamati tanaman-tanaman di teras Kantor 'Welcome Space' di Sekolah Tempatku Mengajar sambil berpikir, kok tanaman ini bunganya sudah mekar? kenapa tanaman yang itu belum? kenapa tanaman yang lainnya malah tidak berbunga sama sekali? kenapa antara tanaman yang satu dengan tanaman yang lain bunganya tidak mekar secara bersamaan?
Dari situ, aku belajar bahwa waktu tumbuh dan waktu mekar tiap tanaman berbeda. Tanamannya aja beda-beda jenisnya, jelas proses pertumbuhannya juga pasti akan berbeda. Begitupun dengan manusia. Apalagi ini manusia, yang jenisnya lebih kompleks dan rumit, jalan hidup antara satu manusia dengan manusia lain pasti tidak akan ada yang sama.
Jadi kalau sewaktu-waktu aku dipaksa mengerjakan Asesmen lagi, ditanyai perihal 'kapan?' atau 'siapa?', semoga aku berani untuk mengirimkan link tulisan ini. Biar bisa dibaca dan dipahami sendiri, karena kalau memang belum waktunya, ya mau gimana lagi? haha. Lagi pula, jalan hidup tiap orang kan beda-beda, do'akan kebaikan saja ya.
Sebagai penutup, tiba-tiba muncul pikiran ini. Jika benar seseorang yang datang ke hidup kita adalah cerminan dari banyak hal dalam diri kita, mungkin orang yang akan menjadi pasanganku nanti juga tidak berbeda denganku. Husnudzonnya, mungkin saat ini ia juga sedang bertumbuh. Ia sedang belajar menerima dirinya sendiri secara utuh, sedang menata bagian-bagian yang belum selesai, dan masih butuh waktu untuk dirinya sendiri berfotosintesis.
Kenapa belum Allah pertemukan? Mungkin bukan hanya ia saja yang belum selesai, tapi akunya juga belum selesai. Mungkin ketemunya nanti kalau sudah jadi bunga-bunga bermekaran.
Do'akan saja, ya. haha!
Ngomong-ngomong, aku menulis ini sebagai refleksi dan pengingat untuk diriku sendiri. Kalau suatu hari tiba-tiba terserang penyakit overthinking lagi, aku sudah punya obatnya. Semoga tulisan ini juga bisa membantu orang-orang yang punya keresahan yang sama, menjadi obat sakti yang mampu untuk menenangkan.
Terima kasih banyak sudah meluangkan waktu berhargamu untuk membaca tulisan ini sampai akhir. Semoga Allah yang Maha Baik dan Penyayang senantiasa melimpahi hidup kita dengan banyak keberkahan dan kelapangan hati.
(Maret, 2026)
Komentar
Posting Komentar